Grace Oey

Aku adalah Penyuka Fenomena Senja... Hangatnya, Biasnya, Cahayanya, dan tentu saja Cintanya... Aku Sendiri adalah Semburat Fajar..
Showing posts with label Sarkasme. Show all posts
Showing posts with label Sarkasme. Show all posts

Friday, July 29, 2011

Benar-benarkah mereka manusia?

Terkadang ketika sepertinya tak ada lagi jalan untuk kemanusiawian, maka sekalian saja berhenti menginjak bumi..

Munafik! Benarkah itu?

Terlalu sulit dijangkau oleh pendosa, dan membuat muak orang-orang yang ada di dalamnya tapi sama sekali tak menjadi bagian darinya, bahkan momok bagi kaum medioker.

Tak ada yang memaksa untuk hidup seperti itu, bahkan Ia pun tidak...

Jadi mengapa dengan sok tahu dan merasa paling benar seolah-olah berjuang untuk kesempurnaan, padahal semakin menjauh dari apa yang dituju? Sungguh, hidup untuk dihidupi dan bukan untuk dipandangi seperti lukisan tak bercacat. Gagal dan bangkit, membuat pelajaran terasa berharga, dan keberhasilan bukanlah kekosongan tak bermakna.

Hati...

Untuk apa organ itu ada jika bukan untuk dimampiri rasa sakit dan kecewa, hanya sekedar mengajarkan bahwa kasih lebih agung dan sanggup menjadi penyembuh.

Sudut bibir yang tertarik...

Untuk apa jika bukan sesekali menciptakan cibiran dan sinisme, hanya sekedar untuk mengajarkan bahwa itu adalah proses dimana menghargai orang lain adalah penting, karena ternyata sinisme dan cibiran terasa menusuk jika ditujukan pada "aku".

Pemimpin...

Benarkah mereka manusia?




-grace

hati atau tahi?

Apa yang harus disehatikan jika hati tak ada?
Seperti ingin berteriak sekencang-kencangnya
Seperti ingin meraung sekeras-kerasnya...
Sungguh pahit sekali, melihat bentuk hati yang sebenarnya bukan hati...
Jika memang tak ada, kenapa harus mengaku ada?
Tak tahukah bahwa itu menyakitkan?
Kenapa bilang ada?

KENAPA BILANG ADA?!!!!!
PEMBOHONG!!!

Bukankah segala sesuatu berubah kecuali perubahan?
Tapi terkadang itu meremas-remas hati...
Mengiritasi mata...
Mengaduk-aduk perasaan seperti kuret yang tajam..
Dia, dia, dia, dan mereka...
Perlahan-lahan mulai terlepas dari mata rantai yang semula stimulan penyemangat jiwa..
Ayolah, teman, kembali...

Tidakkah terlihat bahwa tak bisa berjalan, karena kalian kaki kananku..
Tidakkah terlihat bahwa tak bisa bicara, karena kalian mulutku..
tak bisa mendengar karena kalian telingaku,
mataku...
bahkan seperdelapan hatiku...

Tapi entah mengapa bagi mereka semua itu seolah-olah onggokan tahi...
tak ada dari mereka yang paham, bahwa itu hatiku..
Dipalingkannya wajah dengan dengusan kasar
Atau dipamerkannya senyuman palsu yang busuk..
Sungguh, bilang saja jika memang tak ada!
Bermanis-manis tapi asam seperti wuluh

Jadi, bahkan pada saat aku hendak berjalan dengan arah yang berbeda
hati itu yang punyaku, masih tetap tertinggal...
untuk dia, dia, dia, dan mereka...

Entahkah mereka menyadarinya atau tidak..
Kepedulian untuk itu telah bugil oleh siraman keacuhan yang pedih.



-grace

the past...

rasaku hambar..
apa yang kuharapkan dibalik senyum itu?
persetan!!!
tampar aku! usir dari akses pandangmu!
bahkan bunuh aku jika itu membuatmu puas, pecundang!
tapi jangan usik hatiku...

bisakah itu kulontarkan? pantaskah itu kukatakan?
mungkinkah baja berteriak pada sang penempa untuk berhenti menghujamkan pukulan?
atau marmer memohon si pematung untuk berhenti mengukir?
lalu apa yang kuharapkan?
membatu? membeku?
tapi bagaimana jika erosi tak kan dapat mengikisnya?
bagaimana jika matahari berhenti bersinar?
dan aku mati, melebur di antara bebatuan..?
sirna, dan tak terhirup?
lalu apa?
masakan kurutuki? masakan kusesali?
tapi apa?
ah... betapa egoku tak mau berkompromi, hatiku tak sudi mencair, dan lukanya tak bisa saling menjalin..
bisakah Tuhan, cukai luka ini, kataku...
agar aku menjerit, meronta, dan merasa...
karena mati rasa aku kini...

kurasa demikian sebelum hari-hari ini..
tapi lalu kuputuskan, Pedang itu cukup tajam..
untuk mengoyak keakuan, menyayat dan membakar hati yang bengkok..
lalu kuminta Ia menggantinya dengan yang baru...



-grace

Gue, Aku dan Saya versus Elo, Kamu, dan Anda, sebuah refleksi... dan tentu saja, sarkasme!

Gue...
Gue nggak butuh siapa-siapa.
Mana? Mana yang katanya peduli????
Gue nggak pernah dipeduliin!
Mana yang katanya sahabat?
Waktu gue seneng, gue ajak lo seneng-seneng.
Tapi giliran gue susah, lo nggak pernah ada buat gue.
Lo bahkan nggak peduli ketika gue berlarian kesini dan kesana
Ketika gue blingsatan berjuang demi kebangkitan gue dari keterpurukan.
Lo dan lo dan lo dimana?!?!
Jadi jangan salahkan gue ketika gue kemudian menjadi sinis dan dingin.
Jangan salahkan gue ketika gue berubah menjadi independent.
Jangan salahkan gue ketika gue memutuskan untuk pergi.
Karena semua ini salah elo dan elo dan elo dan elo.
Lo semua yang salah!!!
Gue ini, korban keegoisan lo semua, tau gakk? untung gue kuat!


Aku?
Sesak sekali dadaku..
Kemana orang-orang?
Ah... sungguh, di tengah-tengah malam di masa-masa kronis hatiku,
aku sering mengingat-ingat satu persatu wajah kamu dan kamu dan kamu..
kemanakah kamu, kamu, lalu kamu, dan kamuu..
Aku membutuhkanmu, mu, mu, dan mu...
Tapi untuk mengatakan itu tentu saja pahit, apa kamu tahu?
Sakit hatiku harus berkata aku butuh kamu.. padahal kamu seharusnya tahu. Kamu-kamu kan dewa-dewa aku... seharusnya kamu tahu..apa yang aku rasa, apa yang terjadi pada aku.. tapi kamu kok tidak tahu? Jadi kamu dewa palsu, begitu??
Jadi, lebih mudah bagiku memalingkan wajah dan menutup mata, nah, kamu pun hilang..
Tapi aku lupa aku kelihatan. Karena yang tutup mata aku...
Ooooohhh, tentu matamu terbuka, tapi aku tidak tahu kamu melihat apa. Kan mataku kututup.
Tapi kok tidak ada yang sapa aku?
Heeeyy... kamuuu.. nih, aku sedang tutup mata. Aku tidak mau buka sebelum kamu sapa aku.
Apa kamu tidak kasihan pada aku?
Apa kamu mau aku tutup mata terus dan jadi buta betulan?
Nanti kalau aku jadi buta, kamu tidak mau menerima aku, lalu kamu meringis jijik padaku..
Jadi ayo, sapa aku biar aku buka mata.. aku belum buta kok. Hanya tutup mata...
Sedikit saja... apa kamu sudah tidak punya kasih? apa kamu akan biarkan aku jadi buta betulaan?
Kamu jahaaat! iya. kamu dan kamu dan kamu.


Oh.. Saya.
Saya tidak terlalu mengenal anda-anda. Mungkin kita bersama-sama, tapi, saya toh tidak membuka diri. Dan saya pun tidak mengharapkan anda membuka diri.
Saya punya hidup dan anda punya hidup.
Jadi jangan usik hidup saya dan saya pun tidak akan mengusik anda.
Sepertinya selama ini anda terlalu sok penting ya, mengorek-ngorek ingin tahu hidup saya.
Apa untungnya buat anda? toh anda tidak bisa bantu saya.
Atau anda-anda ini ingin menghakimi saya?
Anda kan tahu, saya tidak lebih benar dari anda, dan anda-anda pun tidak lebih benar dari saya.
Jadi berhentilah mengusik hidup saya seolah-olah anda sahabat saya.
Saya tidak nyaman, apa anda tidak tahu?Saya tidak menyalahkan anda, karena kita kan punya kehidupan masing-masing.
Jadi, jangan merasa terintimidasi kalau saya akhirnya memutuskan tidak akan berrelasi dengan anda-anda.
Itu bukan karena saya tidak betah anda usik-usik. Tenang saja, itu bukan salah anda kok.



-grace