Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
..Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.Selamat jalan,Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,selamat jalan,calon bidadari surgaku ….
BJ.HABIBIE
Grace Oey
Categories
- Favorit Grace (^_^)v
- Love Letter
- Love Story si Paboo dan Paboo-nya
- Renungan
- Sarkasme
- Short Story
Showing posts with label Favorit Grace (^_^)v. Show all posts
Showing posts with label Favorit Grace (^_^)v. Show all posts
Thursday, October 20, 2011
Friday, October 14, 2011
Ukiran Bolu Batu
sepotong kue bolu diiris dari bongkahan bolu besar, kelihatan enak dan mengundang selera,
warna cokelat dengan tekstur cokelat dan wangi coklat yang menggoda.
setelah dimakan ternyata enak sekali
lalu diiris sepotong lagi dan dimakan lagi,
enak..
jadilah bongkahan bolu yang sudah teriris dua kali diklaim sebagai hak milik.
aku:"bolu ini punyaku..biar aku yang habiskan!"
orang lain:"kamu yakin?banyak banget lho..", seraya memandang bolu coklat yang diameternya 12 kali penggaris panjang 30 cm
aku:"iya..aku suka banget soalnya..lagipula belom tentu yang lain mau, biar aku yang habiskan"
orang lain:"terserah deh..", seraya mengangkat bahu dan melempar pisau bolu berbentuk kunci.
jadilah bolu itu mulai dimakan perlahan-lahan.Sedikit demi sedikit sampai akhirnya tinggal 1X1X1cm kubik saja yang tersisa dari tubuhnya, yang belum diisi bolu.
berhenti sejenak, diingatnya rasa-rasa bolu yang telah melewati kerongkonganya.
Mestinya cuma ada satu rasa, yaitu rasa cokelat yang manis dan menenangkan.
Tapi ajaib, rasa cokelat itu ternyata diselingi berjuta-juta rasa lain. Kadang rasanya seperti lemon, kadang seperti serpihan kayu, gabus pencuci piring, alumunium foil, jamur...dan terakhir rasanya seperti menelan batang mawar.
Kini tidak ada satupun ruang ditubuh yang bukan bolu coklat.
Tapi masih ada tiga irisan bolu menggeletak di meja.
oranglain:"wow..tinggal segitu?"
aku:"ii..iya.."agak kebiru-biruan menahan muntah.
oranglain:"habisin lah..tinggal segitu kok.."seraya pergi meninggalkan ruang bolu itu, tidak jelas ekspresinya, menahan tawa ditengah simpati.
Mana bisa.Walaupun tinggal tiga iris, tapi ketika keadaan tubuhku telah berubah, tiga iris itu menjadi lain, melipat ganda dengan tak terlihat.Sementara bolu ditubuh aku, saat gagal menemui 3 irisan terakhirnya berubah menjadi racun.
Kini aku menggeletak di lantai, keracunan bolu.Kejang-kejang.
Orang lain kira aku sedang dansa.Tapi ini dansa kematian. Kemanisanya memuakan.
Orang lain tertawa dalam hati,suara hatinya dalam frekuensi mengasihani.."sudah kubilang..mana bisa makan kue bolu segunung sendirian"
aku mendelik diantara kejang.Mendengar apa yang disuarakan hatinya sejelas mendengar siaran radio dalam gelombang terbaik.
aku:"coba kamu bilang dari awal.."
orang lain:"memang kamu dengar aku ngomong apa?"
aku:"iya..keracunan membuat pendengaranku jadi lebih sensitif"
orang lain:"salahmu sendiri..mestinya kamu tahu volume tubuhmu sendiri"
aku:"benar..tapi aku bodoh..jadi aku tidak tahu"
orang lain:"salah sendiri bodoh.."
aku:"kamu memang sengaja ingin melihat aku keracunan bolu.."
orang lain:"kamu nyalahin aku?itu bukan urusan ku tahu..aku kan orang lain"
aku:"ah iya..benar..orang lain tidak pernah bisa diandalkan, cuma aku yang benar-benar peduli terhadap aku, dan kamu adalah akunya kamu sendiri"
orang lain:"iya benar..itulah kenyataan"
lalu orang lain keluar dari ruang bolu itu.
Aku kejang-kejang di lantai. Hanya aku dan tiga iris bolu.
Jadi pilihannya adalah membiru dan mati konyol keracunan bolu atau menelan tiga iris itu yang akan membalikan efek racunnya.
Aku memilih hidup.
Sambil kejang aku mendorong satu iris kemulut.
Rasanya seperti menyemprot rongga mulut dengan parfum wangi tahi sapi.
Irisan kedua terasa seperti minum pemutih.
Irisan ketiga mengguyur kerongkongan seperti dimuntahi ikan paus biru yang habis minum setelah setahun puasa.Kembung tak tertahankan. Tapi kemudian diujung lidah rasanya jadi lain.
Rasanya seperti,
seperti..
cokelat..
dan kejang-kejang itu berhenti.dan bolu-bolu ditubuh melebur dengan darah.
Kemanisanya mengalir dalam pembuluh, berdesir seperti ombak.
Aku berdiri tegap, merasa lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Melangkah keluar dari ruang bolu.
Ketika aku di luar, tangan kananya yang terkepal menggeliat-geliat hangat.Sesuatu lahir digenggamanya.Sebuah bolu kecil, dari batu.Tertulis dibatu itu:
"aku.., jangan pernah makan bolu sendirian".
aku:"tidak!tidak akan terulang lagi."
lalu aku memasukan batu itu kehatinya dan melanjutkan hidup.
dan diapun membiru

-Flora
warna cokelat dengan tekstur cokelat dan wangi coklat yang menggoda.
setelah dimakan ternyata enak sekali
lalu diiris sepotong lagi dan dimakan lagi,
enak..
jadilah bongkahan bolu yang sudah teriris dua kali diklaim sebagai hak milik.
aku:"bolu ini punyaku..biar aku yang habiskan!"
orang lain:"kamu yakin?banyak banget lho..", seraya memandang bolu coklat yang diameternya 12 kali penggaris panjang 30 cm
aku:"iya..aku suka banget soalnya..lagipula belom tentu yang lain mau, biar aku yang habiskan"
orang lain:"terserah deh..", seraya mengangkat bahu dan melempar pisau bolu berbentuk kunci.
jadilah bolu itu mulai dimakan perlahan-lahan.Sedikit demi sedikit sampai akhirnya tinggal 1X1X1cm kubik saja yang tersisa dari tubuhnya, yang belum diisi bolu.
berhenti sejenak, diingatnya rasa-rasa bolu yang telah melewati kerongkonganya.
Mestinya cuma ada satu rasa, yaitu rasa cokelat yang manis dan menenangkan.
Tapi ajaib, rasa cokelat itu ternyata diselingi berjuta-juta rasa lain. Kadang rasanya seperti lemon, kadang seperti serpihan kayu, gabus pencuci piring, alumunium foil, jamur...dan terakhir rasanya seperti menelan batang mawar.
Kini tidak ada satupun ruang ditubuh yang bukan bolu coklat.
Tapi masih ada tiga irisan bolu menggeletak di meja.
oranglain:"wow..tinggal segitu?"
aku:"ii..iya.."agak kebiru-biruan menahan muntah.
oranglain:"habisin lah..tinggal segitu kok.."seraya pergi meninggalkan ruang bolu itu, tidak jelas ekspresinya, menahan tawa ditengah simpati.
Mana bisa.Walaupun tinggal tiga iris, tapi ketika keadaan tubuhku telah berubah, tiga iris itu menjadi lain, melipat ganda dengan tak terlihat.Sementara bolu ditubuh aku, saat gagal menemui 3 irisan terakhirnya berubah menjadi racun.
Kini aku menggeletak di lantai, keracunan bolu.Kejang-kejang.
Orang lain kira aku sedang dansa.Tapi ini dansa kematian. Kemanisanya memuakan.
Orang lain tertawa dalam hati,suara hatinya dalam frekuensi mengasihani.."sudah kubilang..mana bisa makan kue bolu segunung sendirian"
aku mendelik diantara kejang.Mendengar apa yang disuarakan hatinya sejelas mendengar siaran radio dalam gelombang terbaik.
aku:"coba kamu bilang dari awal.."
orang lain:"memang kamu dengar aku ngomong apa?"
aku:"iya..keracunan membuat pendengaranku jadi lebih sensitif"
orang lain:"salahmu sendiri..mestinya kamu tahu volume tubuhmu sendiri"
aku:"benar..tapi aku bodoh..jadi aku tidak tahu"
orang lain:"salah sendiri bodoh.."
aku:"kamu memang sengaja ingin melihat aku keracunan bolu.."
orang lain:"kamu nyalahin aku?itu bukan urusan ku tahu..aku kan orang lain"
aku:"ah iya..benar..orang lain tidak pernah bisa diandalkan, cuma aku yang benar-benar peduli terhadap aku, dan kamu adalah akunya kamu sendiri"
orang lain:"iya benar..itulah kenyataan"
lalu orang lain keluar dari ruang bolu itu.
Aku kejang-kejang di lantai. Hanya aku dan tiga iris bolu.
Jadi pilihannya adalah membiru dan mati konyol keracunan bolu atau menelan tiga iris itu yang akan membalikan efek racunnya.
Aku memilih hidup.
Sambil kejang aku mendorong satu iris kemulut.
Rasanya seperti menyemprot rongga mulut dengan parfum wangi tahi sapi.
Irisan kedua terasa seperti minum pemutih.
Irisan ketiga mengguyur kerongkongan seperti dimuntahi ikan paus biru yang habis minum setelah setahun puasa.Kembung tak tertahankan. Tapi kemudian diujung lidah rasanya jadi lain.
Rasanya seperti,
seperti..
cokelat..
dan kejang-kejang itu berhenti.dan bolu-bolu ditubuh melebur dengan darah.
Kemanisanya mengalir dalam pembuluh, berdesir seperti ombak.
Aku berdiri tegap, merasa lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Melangkah keluar dari ruang bolu.
Ketika aku di luar, tangan kananya yang terkepal menggeliat-geliat hangat.Sesuatu lahir digenggamanya.Sebuah bolu kecil, dari batu.Tertulis dibatu itu:
"aku.., jangan pernah makan bolu sendirian".
aku:"tidak!tidak akan terulang lagi."
lalu aku memasukan batu itu kehatinya dan melanjutkan hidup.
dan diapun membiru
-Flora
Anak-anakmu
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka
tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
-Kahlil Gibran
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka
tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
-Kahlil Gibran
Friday, July 29, 2011
Sketsa Fiktif Kehidupan yang Terkuak dari Salah Satu Kamar Imajinasi di Otakku, Pada Suatu Malam...
Terlintas sekelebat kenangan di otakku.
Kenangan itu bukannya bukan milikku. Tentu saja milikku. Ia kan berada di otakku. Hanya saja aku tak pernah mengalaminya. Aku menciptakannya. Dan sepertinya tak tepat disebut kenangan. Tetapi aku bisa menggambarkan dengan jelas apa yang kulihat di sana. Perapian hangat dengan lidah api menari-nari, tempat tidur dengan selimut kotak-kotak tebal membungkus tubuh seorang gadis kecil yang berbaring di atasnya. Aku tak bisa bilang gadis itu aku, tapi bisa saja ia memang aku. Dan pria yang duduk di tepi tempat tidur itu, ah.. kuharap ia ayahku, karena sebenarnya ayahku tak pernah duduk di tepi tempat tidurku seperti itu. Ia memandang gadis kecil itu dengan tatapan hangat. Dan gadis kecil itu tersenyum padanya.
"Ayah, mengapa tidak mulai mendongeng untukku? Aku suka sekali kisah yang kau ceritakan padaku tiga malam yang lalu. Tentang Kelinci Hitam yang Nakal. Maukah kau mendongengkannya lagi untukku malam ini, Ayah?" pinta gadis kecil.
"Aku tidak akan mendongeng untukmu malam ini Nak," jawab sang Ayah sambil tersenyum, menghasilkan guratan-guratan kerut di wajahnya, pertanda menuanya segala keperkasaan masa muda. "Aku akan menceritakan padamu suatu kisah, petuah yang akan kau bawa sebagai bekal saat kau memulai perjalanan menuju kedewasaan. Jadi dengarkan baik-baik, aku akan berkisah mengenai rahasia waktu."
Gadis kecil mengangguk bersemangat. Ia suka mendengar kisah-kisah yang diceritakan Ayahnya.
"Waktu..," sang ayah memulai, "adalah bagian eksternal kehidupan manusia. Ia semaya dongeng-dongeng klasik, beterbangan seperti udara tak terlihat, tapi senyata lorong-lorong yang setiap hari kita lalui. Dan ia memiliki rahasia."
Gadis kecil mengangguk lagi. Tak sabar mendengar kelanjutan cerita itu.
"Perhatikan baik-baik nak, waktu, adalah penyamar ulung. Ia bisa datang sebagai apa saja di hadapanmu.Terkadang ia datang sebagai KESEMPATAN. Manusia menyukai penyamaran ini, karena memberi mereka ruang untuk meraih apapun yang mereka inginkan. Tetapi, adakalanya ia datang sebagai PENCURI, dan manusia berbalik membencinya. Karena ia merenggut begitu banyak bagian dari hidup manusia. Orang-orang terdekatmu, dirimu sendiri, bahkan bagian dirinya yang satu lagi, KESEMPATAN itu."
Gadis kecil sangat bingung. Adakah sesuatu atau lebih tepatnya bisakah sesuatu seperti itu? Merenggut dirinya sendiri dari manusia, padahal semula ia menyodorkan dirinya sendiri. Seperti sebuah ketidakkonsistenan yang parah.
"Tidak, tidak seperti itu Nak," sahut sang ayah. Rupanya gadis kecil tak sengaja menyuarakan pikirannya agak terlalu keras. "Sesungguhnya waktu selalu tepat dan konsisten, bahkan dengan segala penyamarannya itu. Ia bergerak konstan. Tak pernah menjadi cepat, dan tidak pula melambat. Hanya sugesti manusia yang membuatnya seolah terlihat cepat dan terkadang lambat, lalu dikambinghitamkan sebagai penyebab kegagalan.
Dan ia begitu sensitif. Jika kau menggunakannya dengan bijak, maka ia berkawan denganmu. Memberimu bagian dirinya yang bernama KESEMPATAN itu dengan sangat murah hati. Tapi jika kau mengabaikannya, maka ia juga tak mengenalmu. Dengan kejam ia akan berlalu, pergi, dan hilang begitu saja dengan membawa serta kesempatan. Hal yang kau sebut ketidakkonsistenan yang parah, padahal itu karena ulah manusia sendiri."
"Aku tak mengerti apakah sungguh ada sesuatu seperti itu di dunia ini. Ia terdengar begitu kompleks. Membingungkan."
"Aku bercerita padamu tidak dimaksudkan untuk dimengerti saat ini. Kau bahkan belum dewasa. Hanya saja, kau harus mengingat apa yang kukatakan ini. Seluruhnya. Karena siapa tahu aku dicuri darimu lebih dulu, dan kita bahkan belum tiba di bagian terburuknya."
"Apakah itu, ayah? Bagian terburuknya, maksudku."
"Bagian terburuknya, anakku, adalah jika kau menunda-nunda waktu. Kau, dan seluruh aspek kehidupanmu akan terperangkap di dalamnya. Secara harfiah."
"Seperti penjara?"
"Ya. Seperti penjara. Ia akan membelenggumu dan kau tak akan bisa membebaskan diri jika itu terjadi. satu-satunya cara, kau harus menemukan Sang Pencipta Waktu. Hanya dia yang bisa melepaskanmu dari belenggu itu. Tak ada yang pernah benar-benar bertemu dengannya, kau tahu. Tapi konon dia benar-benar ada."
Sang ayah diam. Gadis kecil pun terdiam pula. Matanya mulai memberat. Bukan karena ia terlena dengan kisah sang ayah, tapi karena terlalu sulit baginya mereka-reka seperti apa rasanya terperangkap dalam waktu. Hingga kemudian ia mengatupkan kelopak matanya, lalu lelap.
Tahukah kau? Manusia terkadang merasa dirinya sungguh sangat bijak. Dan kenangan yang kuciptakan ini, tak berarti apa-apa. Sungguh. Hanya saja aku berharap ia - si kenangan ini - benar2 pernah terjadi di suatu bagian hidupku dahulu. Aku berharap pria paruh baya itu ayahku, dan aku si gadis kecil pintar itu. Hanya agar aku tahu tentang kisah rahasia waktu itu, dan tidak terperangkap olehnya. Secara harfiah. Seperti sekarang. Dan jawab aku, akankah penyesalan mampu membuat waktu menoleh? Rasanya tidak..
-grace
Kenangan itu bukannya bukan milikku. Tentu saja milikku. Ia kan berada di otakku. Hanya saja aku tak pernah mengalaminya. Aku menciptakannya. Dan sepertinya tak tepat disebut kenangan. Tetapi aku bisa menggambarkan dengan jelas apa yang kulihat di sana. Perapian hangat dengan lidah api menari-nari, tempat tidur dengan selimut kotak-kotak tebal membungkus tubuh seorang gadis kecil yang berbaring di atasnya. Aku tak bisa bilang gadis itu aku, tapi bisa saja ia memang aku. Dan pria yang duduk di tepi tempat tidur itu, ah.. kuharap ia ayahku, karena sebenarnya ayahku tak pernah duduk di tepi tempat tidurku seperti itu. Ia memandang gadis kecil itu dengan tatapan hangat. Dan gadis kecil itu tersenyum padanya.
"Ayah, mengapa tidak mulai mendongeng untukku? Aku suka sekali kisah yang kau ceritakan padaku tiga malam yang lalu. Tentang Kelinci Hitam yang Nakal. Maukah kau mendongengkannya lagi untukku malam ini, Ayah?" pinta gadis kecil.
"Aku tidak akan mendongeng untukmu malam ini Nak," jawab sang Ayah sambil tersenyum, menghasilkan guratan-guratan kerut di wajahnya, pertanda menuanya segala keperkasaan masa muda. "Aku akan menceritakan padamu suatu kisah, petuah yang akan kau bawa sebagai bekal saat kau memulai perjalanan menuju kedewasaan. Jadi dengarkan baik-baik, aku akan berkisah mengenai rahasia waktu."
Gadis kecil mengangguk bersemangat. Ia suka mendengar kisah-kisah yang diceritakan Ayahnya.
"Waktu..," sang ayah memulai, "adalah bagian eksternal kehidupan manusia. Ia semaya dongeng-dongeng klasik, beterbangan seperti udara tak terlihat, tapi senyata lorong-lorong yang setiap hari kita lalui. Dan ia memiliki rahasia."
Gadis kecil mengangguk lagi. Tak sabar mendengar kelanjutan cerita itu.
"Perhatikan baik-baik nak, waktu, adalah penyamar ulung. Ia bisa datang sebagai apa saja di hadapanmu.Terkadang ia datang sebagai KESEMPATAN. Manusia menyukai penyamaran ini, karena memberi mereka ruang untuk meraih apapun yang mereka inginkan. Tetapi, adakalanya ia datang sebagai PENCURI, dan manusia berbalik membencinya. Karena ia merenggut begitu banyak bagian dari hidup manusia. Orang-orang terdekatmu, dirimu sendiri, bahkan bagian dirinya yang satu lagi, KESEMPATAN itu."
Gadis kecil sangat bingung. Adakah sesuatu atau lebih tepatnya bisakah sesuatu seperti itu? Merenggut dirinya sendiri dari manusia, padahal semula ia menyodorkan dirinya sendiri. Seperti sebuah ketidakkonsistenan yang parah.
"Tidak, tidak seperti itu Nak," sahut sang ayah. Rupanya gadis kecil tak sengaja menyuarakan pikirannya agak terlalu keras. "Sesungguhnya waktu selalu tepat dan konsisten, bahkan dengan segala penyamarannya itu. Ia bergerak konstan. Tak pernah menjadi cepat, dan tidak pula melambat. Hanya sugesti manusia yang membuatnya seolah terlihat cepat dan terkadang lambat, lalu dikambinghitamkan sebagai penyebab kegagalan.
Dan ia begitu sensitif. Jika kau menggunakannya dengan bijak, maka ia berkawan denganmu. Memberimu bagian dirinya yang bernama KESEMPATAN itu dengan sangat murah hati. Tapi jika kau mengabaikannya, maka ia juga tak mengenalmu. Dengan kejam ia akan berlalu, pergi, dan hilang begitu saja dengan membawa serta kesempatan. Hal yang kau sebut ketidakkonsistenan yang parah, padahal itu karena ulah manusia sendiri."
"Aku tak mengerti apakah sungguh ada sesuatu seperti itu di dunia ini. Ia terdengar begitu kompleks. Membingungkan."
"Aku bercerita padamu tidak dimaksudkan untuk dimengerti saat ini. Kau bahkan belum dewasa. Hanya saja, kau harus mengingat apa yang kukatakan ini. Seluruhnya. Karena siapa tahu aku dicuri darimu lebih dulu, dan kita bahkan belum tiba di bagian terburuknya."
"Apakah itu, ayah? Bagian terburuknya, maksudku."
"Bagian terburuknya, anakku, adalah jika kau menunda-nunda waktu. Kau, dan seluruh aspek kehidupanmu akan terperangkap di dalamnya. Secara harfiah."
"Seperti penjara?"
"Ya. Seperti penjara. Ia akan membelenggumu dan kau tak akan bisa membebaskan diri jika itu terjadi. satu-satunya cara, kau harus menemukan Sang Pencipta Waktu. Hanya dia yang bisa melepaskanmu dari belenggu itu. Tak ada yang pernah benar-benar bertemu dengannya, kau tahu. Tapi konon dia benar-benar ada."
Sang ayah diam. Gadis kecil pun terdiam pula. Matanya mulai memberat. Bukan karena ia terlena dengan kisah sang ayah, tapi karena terlalu sulit baginya mereka-reka seperti apa rasanya terperangkap dalam waktu. Hingga kemudian ia mengatupkan kelopak matanya, lalu lelap.
Tahukah kau? Manusia terkadang merasa dirinya sungguh sangat bijak. Dan kenangan yang kuciptakan ini, tak berarti apa-apa. Sungguh. Hanya saja aku berharap ia - si kenangan ini - benar2 pernah terjadi di suatu bagian hidupku dahulu. Aku berharap pria paruh baya itu ayahku, dan aku si gadis kecil pintar itu. Hanya agar aku tahu tentang kisah rahasia waktu itu, dan tidak terperangkap olehnya. Secara harfiah. Seperti sekarang. Dan jawab aku, akankah penyesalan mampu membuat waktu menoleh? Rasanya tidak..
-grace
Subscribe to:
Posts (Atom)
